Kamis, 02 Juni 2011

TUGAS KE III LAPORAN PENDAHULUAN DIABETES MELITUS

LAPORAN PENDAHULUAN DIABETES MELITUS


A.      A. Definisi
Diabetes Mellitus ( DM ) adalah penyakit metabolik yang kebanyakan herediter, demham tanda – tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan atau tidak adanya gejala klinik akut ataupun kronik, sebagai akibat dari kuranganya  insulin efektif di dalam tubuh, gangguan primer terletak pada metabolisme karbohidrat yang biasanya disertai juga gangguan metabolisme lemak dan protein. ( Askandar, 2000 ).
Diabetes mellitus adalah suatu penyakit kronik yang komplek melibatkan kelainan metabolisme karbohidrat, protein, lemak, dan berkembangnya komplikasi makrovaskuler, mikrovaskuler dan neurologis. (Barbara C. Long, 1996)
Diabetes mellitus adalah penyakit karena kekurangan hormon insulin sehingga glukosa tidak dapat diolah tubuh dan kadar glukosa dalam darah meningkat lalu dikeluarkan kemih yang menjadi merasa manis (Ahmad Ramali, 2000)
Diabetes mellitus adalah masalah yang mengancam hidup atau kasus darurat yang disebabkan oleh defisiensi insulin relatif atau absolut (Mariyinn E. Donges, 2000)
Diabetes mellitus adalah kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia (Smletzer C. Suzanne, 2001).

B.      B. Anatomi Fisiologi




Pankreas merupakan sekumpulan kelenjar yang panjangnya kira – kira 15 cm, lebar  5 cm, mulai dari duodenum sampai ke limpa  dan beratnya rata – rata 60 – 90 gram. Terbentang pada vertebrata lumbalis 1 dan 2 di belakang lambung.
Pankreas merupakan kelenjar endokrin terbesar yang terdapat di dalam tubuh baik hewan maupun manusia. Bagian depan ( kepala ) kelenjar pankreas terletak pada lekukan yang dibentuk oleh duodenum dan bagian pilorus dari lambung. Bagian badan yang merupakan bagian utama dari organ ini merentang ke arah limpa dengan bagian ekornya menyentuh atau terletak pada alat ini. Dari segi perkembangan  embriologis, kelenjar pankreas terbentuk dari epitel yang berasal dari lapisan epitel yang membentuk usus.
Pankreas terdiri dari dua jaringan utama, yaitu :
(1). Asini sekresi getah pencernaan ke dalam duodenum.
(2). Pulau Langerhans yang tidak tidak mengeluarkan sekretnya keluar, tetapi menyekresi insulin dan glukagon langsung ke darah.
Pulau – pulau Langerhans yang menjadi sistem endokrinologis dari pamkreas tersebar di seluruh pankreas dengan berat hanya 1 – 3 % dari berat total pankreas. Pulau langerhans berbentuk ovoid dengan besar masing-masing pulau berbeda. Besar pulau langerhans yang terkecil adalah 50 m, sedangkan yang terbesar 300 m, terbanyak adalah yang besarnya 100 – 225 m. Jumlah semua pulau langerhans di pankreas diperkirakan antara 1 – 2 juta.
Pulau langerhans manusia, mengandung tiga jenis sel utama, yaitu :
(1). Sel – sel A ( alpha ), jumlahnya sekitar 20 – 40 % ; memproduksi glikagon yang manjadi faktor hiperglikemik, suatu hormon yang mempunyai “ anti insulin like activity “.
(2). Sel – sel B ( betha ), jumlahnya sekitar 60 – 80 % , membuat insulin.
(3). Sel – sel D ( delta ), jumlahnya sekitar 5 – 15 %, membuat somatostatin.
Masing – masing sel tersebut, dapat dibedakan berdasarkan struktur dan sifat pewarnaan. Di bawah mikroskop pulau-pulau langerhans ini nampak berwarna pucat dan banyak mengandung pembuluh darah kapiler. Pada penderita DM, sel beha sering ada tetapi berbeda dengan sel beta yang  normal dimana sel beta tidak menunjukkan reaksi pewarnaan untuk insulin sehingga dianggap tidak berfungsi.
Insulin merupakan protein kecil dengan berat molekul 5808 untuk insulin manusia. Molekul insulin terdiri dari dua rantai polipeptida yang tidak sama, yaitu rantai A dan B. Kedua rantai ini dihubungkan oleh  dua jembatan ( perangkai ), yang terdiri dari disulfida. Rantai A terdiri dari 21 asam amino dan rantai B terdiri dari 30 asam amino. Insulin dapat larut pada pH 4 – 7 dengan titik isoelektrik pada 5,3. Sebelum insulin dapat berfungsi, ia harus berikatan dengan protein reseptor yang besar di dalam membrana sel.
Insulin di sintesis sel beta pankreas dari proinsulin dan di simpan dalam butiran berselaput yang berasal dari kompleks Golgi. Pengaturan sekresi insulin dipengaruhi efek umpan balik kadar glukosa darah pada pankreas. Bila kadar glukosa darah meningkat diatas 100 mg/100ml darah, sekresi insulin meningkat cepat. Bila kadar glukosa normal atau rendah, produksi insulin akan menurun.
Selain kadar glukosa darah, faktor lain seperti asam amino, asam lemak, dan hormon gastrointestina merangsang sekresi insulin dalam derajat berbeda-beda. Fungsi metabolisme utama insulin untuk meningkatkan kecepatan transport glukosa melalui membran sel ke jaringan terutama sel – sel otot, fibroblas dan sel lemak.
C.       Klasifikasi
1. Tipe I : Diabetes mellitus tergantung insulin (IDDM)
2. Tipe II : Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (NIDDM)
3. Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya
4. Diabetes mellitus gestasional (GDM)
D.              D. Etiologi
DM mempunyai etiologi yang heterogen, dimana berbagai lesi dapat menyebabkan insufisiensi insulin, tetapi determinan genetik biasanya memegang peranan penting pada mayoritas DM. Faktor lain yang dianggap sebagai kemungkinan etiologi DM yaitu :
  1. Kelainan sel beta pankreas, berkisar dari hilangnya sel beta sampai kegagalan sel beta melepas insulin.
  2. Faktor – faktor lingkungan yang mengubah fungsi sel beta, antara lain agen yang dapat menimbulkan infeksi, diet dimana pemasukan karbohidrat dan gula yang diproses secara berlebihan, obesitas dan kehamilan.
  3. Gangguan sistem imunitas. Sistem ini dapat dilakukan oleh autoimunitas yang disertai pembentukan sel – sel antibodi antipankreatik dan mengakibatkan kerusakan sel – sel penyekresi insulin, kemudian peningkatan kepekaan sel beta oleh virus.
  4. Kelainan insulin. Pada pasien obesitas, terjadi gangguan kepekaan jaringan terhadap insulin akibat kurangnya reseptor insulin yang terdapat pada membran sel yang responsir terhadap insulin.
E.                        E. Patofisiologi Diabetes Melitus  (Brunner & Suddarth, 2002)
1.     Diabetes Tipe I
Terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel ? pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia postprandial (sesudah makan).
Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar akibatnya glukosa tersebut diekskresikan dalam urin (glukosuria). Ekskresi ini akan disertai oleh pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan, keadaan ini dinamakan diuresis osmotik. Pasien mengalami peningkatan dalam berkemih (poliuria) dan rasa haus (polidipsi).
2.     Diabetes Tipe II
Terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin, yaitu: resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel. Sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor tersebut, terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa di dalam sel. Resistensi insulin pada diabetes tipe II disertai dengan penurunan reaksi intrasel, dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan.
Untuk mengatasi resistensi insulin dan mencegah terbentuknya glukosa dalam darah harus terdapat peningkatan insulin yang disekresikan. Pada penderita toleransi glukosa terganggu, keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan dan kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat. Namun jika sel-sel ? tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin maka kadar glukosa akan meningkat danterjadi diabetes tipe II.
Meskipun terjadi gangguan sekresi insulin yang merupakan ciri khas diabtes tipe II, namun terdapat jumlah insulin yang adekuat untuk mencegah pemecahan lemak dan produksi badan keton. Oleh karena itu, ketoasidosis diabetik tidak terjadi pada diabetes tipe II. Meskipun demikan, diabetes tipe II yang tidak terkontrol dapat menimbulkan masalah akut lainnya yang dinamakan sindrom hiperglikemik hiperosmoler nonketotik. Akibat intoleransi glukosa yang berlangsung lambat dan progresif, maka awitan diabetes tipe II dapat berjalan tanpa terdeteksi, gejalanya sering bersifat ringan dan dapat mencakup kelelahan, iritabilitas, poliuria, polidipsia, luka pada kulit yang tidak sembuh-sembuh, infeksi dan pandangan yang kabur. 
3.     Diabetes Gestasional
Terjadi pada wanita yang tidak menderita diabetes sebelum kehamilannya. Hiperglikemia terjadi selama kehamilan akibat sekresi hormone-hormon plasenta. Sesudah melahirkan bayi, kadar glukosa darah pada wanita yang menderita diabetes gestasional akan kembali normal.

F.                 F. Manifestasi Klinis
Diagnosis DM Tipe II (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus) ditandai dengan adanya gejala berupa polifagia, poliuria, polidipsia, lemas dan berat badan turun. Gejala lain yang mungkin dikeluhkan pasien adalah kesemutan, gatal, mata kabur dan impoteni pada pria serta pruritus vulva pada wanita.

            G. PENATALAKSANAAN MEDIS DIABETES MELITUS
Tujuan Pengelolaan DM Secara Umum
Hilangnya tanda dan keluhan DM dan mempertahankan kenyamanan dan kesehatan
Tercegahya dan terhambatnya progresifitas komplikasi mikroangioopati, makroangiopati, neuropati dengan tujuan akhir untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas. Untuk itu dilakukan:
Pengendalian hiperglikemi, tekanan darah, berat badan, dan lipid, melalui pengeloaan pasien secara holistik dengan mengajarkan perawatan mandiri dan perubahan prilaku.
LANGKAH LANGKAH YANG PERLU DILAKUKAN PADA PENGELOLAAN PASIEN DM (Konsensus Perkeni, 2002)
Anamnesa dan pemeriksaan fisik lengkap
Evaluasi medis khusus diabetes pada pertemuan awal
Anamnesis keluhan hiperglikemi dan komplikasi
Pemeriksaan fisik tiap kali pertemuan :
TB,BB, TD (diperiksa pada posisi tidur dan duduk)
Tanda neuropati
Mata
Gimul
Keadaan kaki (termasuk rabaan nadi kaki) kulit dan kuku
Laboratorium :
Hb, leukosit, LED
GDP dan GPP
Urinalisis rutin
Pemeriksaan laboratorium tambahan yang disarankan, tergantung fasilitas yang tersedia :
HbA1c (glycosilated haemoglobin)
Mikroalbuminuri
Kreatinin
Albumin/termasuk SGPT
Kolesterol total, HDL, LDL dan trigliserida
EKG
Ro thorax
Funduskopi
Pilar Pengelolaan DM
Edukasi
Perencanaan makan
Latihan Jasmani
Intervensi farmakologis

1. EDUKASI
Pendekatan tim (perawat edukator diabetes, dokter, ahli gizi, podiatris, psikiatris dan pekerja sosial) Komunikasi tim yang baik diperlukan untuk mencegah kebingungan pasien
Salah satu metode edukasi tim: Burger Materi Edukasi:
Pengetahuan tentang patofisiologi DM. Komplikasi dan pencegahan komplikasi
Diet
Olah raga
OHO dan insulin (termasuk cara penyuntikan insulin)
Perawatan kaki
Follow up care
Penanganan hipo dan hiperglikemi
PGDM (Pemeriksaan Gula Darah Mandiri)
Perawatan diri dikala sakit
Melakukan perjalanan jauh

2. PERENCANAAN MAKAN
Merupakan salah satu pilar penanganan pasien DM tipe ½ Prinsip:
Harus disesuaikan dengan kebiasaan tiap individu
Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, stutus gizi, umur, ada tidaknya stress akut, dan kegiatan jasmani
Jumlah kalori yang masuk lebih penting dari pada jenis asal kalori Menghitung kebutuhan kalori dengan menggunakan:
Rumus Broca (yang dipakai di klinik)
BBI=(TB-100)-10%
Status gizi:
BB kurang BB<90%BBI
BB normal BB90-110%BBI
BB lebih BB110-120%BBI
BB gemuk BB>120% BBi
IMT (Index Massa Tubuh)
3. PERENCANAAN MAKAN
Contoh perhitungan Kalori dengan rumus Broca:
BBI=(TB-100)-10% dikalikan dengan kebutuhan kalori untuk metabolisme basal (30kkal/kgBB untuk pria;24 kkal/kgBB untuk wanita)
Penambahan:
10-30% aktifitas
20% stress akut
Koreksi bila gemuk
Makanan dibagi atas 3 porsi besar: pagi (20%), siang(30%), sore (25%) dan sisa untuk snack diantara makan pagi siang dan siang-sore. Selanjutnya perubahan disesuaikan dengan pola makan pasien.
Standar yang dianjurkan untuk komposisi makanan:
KH 60-70%
Protein 10-15%
Lemak 20-25%
PERENCANAAN MAKAN
KH diklasifikasikan berdasarkan efeknya terhadap peningkatan glukosa (Index glikemik):
Lambat (a.l. roti whole grain, nasi, kentang, cereal, apel)
Sedang
Cepat
Untuk mencegah peningkatkan glukosa secara cepat maka dipilih makanan dengan index glikemik lambat
Gula murni tidak perlu dihindari
4. LATIHAN JASMANI
Manfaat olah raga bagi pasien DM:
Meningkatkan kontrol GD
Menurunkan resiko penyakit KV, jika dilakukan minimal 30 menit,3-4kali/minggu sampai HR mencapai 220-umur/menit
Menurunkan BB
Menimbulkan kegembiraan
Sebelum melakukan olah raga, pasien DM:
Melakukan evaluasi medis
Diidentifikasi kemungkinan adanya masalah mikro dan makroangiopati yang akan bertambah buruk dengan olah raga
Jenis olah raga:
Rekreasional maupun profesional sport boleh dilakukan oleh pasien DM
Hindari olah raga dengan kontak tubuh
Informasi yang perlu disampaikan pada pasien
Cek gula darah sebelum olah raga, cek apakah butuh tambahan glukosa
LATIHAN JASMANI
Hindari dehidarasi, minum 500cc
Diperlukan teman selama berolah raga
Pakai selalu tanda pengenal sebagai diabetisi
Selalu bawa makanan sumber glukosa cepat:permen, jelly
Makan snack sebelum mulai
Jangan olah raga jika merasa ‘tak enak badan’
Gunakan alas kaki yang baik
5.  INTERVENSI FARMAKOLOGIS
Intervensi farmakologis ditambahkan jika sasaran kadar glukosa darah belum tercapai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani
Intervensi Farmakologis meliputi:
OHO (Obat Hipoglikemik Oral)
Insulin
OBAT HIPOGLIKEMIK ORAL
Lokasi kerja OHO pada tubuh
OBAT HIPOGLIKEMIK ORAL
Digolongkan berdasarkan cara kerjanya:

Pemicu sekresi insulin/secretagogue (Sulfonilurea dan Glinit)
Penambah sensitifitas terhadap insulin: Metformin dan Tiazolidindion. Penghambat absorbsi glukosa:penghambat oksidase alfa
SULFONILUREA
Bekerja dengan cara meningkatkan sekresi insulin. Semua Sulfonilurea meningkatkan berat badan dan beresiko menyebabkan hipoglikemi . Menurunkan GDP sampai 50–70 mg/dl dan menurunkan HbA1c sampai 0.8–1.7%
Semua obat menyebabkan hipoglikemi berat, maka dosis yang diberikan sekecil mungkin dan harus dimonitor GDP sampai 110-140mg/dL.
Generasi pertama (Tolbutamide, Acetohexamide, Tolazamide, and Chlorpropamide)
sudah tidak digunakan lagi (terutama di US) karena meningkatkan reaksi obat dengan obat lain.
sangat kuat efek hipoglikeminya (Chlorpropamide): hanya dimetabolisme pada pasien gangguan ginjalàterakumulasi pada ginjalàsebagian menyebabkan hipoglikemi memanjang dan berat
TIAZOLIDINDION
Contoh:Troglitazone Maretà(Rezulin), rosiglitazone (Avandia) and pioglitazone (Actos).  2000 Troglitazone ditarik dari pasaran US karena terbukti menyebabkan 60 laporan hepatotoksik.
Bekerja dengan cara meningkatkan sensitifitas insulin pada jaringan otot dan adipose dan sedikit menghambat produksi glukosa di hati.
Relatif aman untuk pasien gangguan ginjal karena dimetabolisme di hati dan dikeluarkan melalui feses. Penggunaan pada pasien gangguan hati dapat menyebabkan akumulasi Tiazolidindion, kontra indikasi untuk CHF fc III dan IVàTerjadi sedikit peningkatan volume plasma pada penggunaan obat ini
PENGHAMBAT
 GLUKOSIDASE ALFA/GLUKOSIDASE INHIBITORS
Generik:Acarbose (Glucobay)
lansung menurunkan GDPP.àBekerja dengan cara menghambat absorbsi karbohidrat pada usus halus .Absorbsi dextrins, maltose, sucrose, and KH tergangu dengan pemberian Acarbose tetapi tidak menghambat penyerapan glucose dan lactose.
Dimakan bersamaan suapan pertama
Pengobatan dengan Arcabose dapat menurunkan GDP sampai 35–40 mg/dl dan HbA1c sampai 0.4–0.7%. Terapi Acarbose tidak menyebabkan peingkatan berat badan atau hipoglikemi (karena hanya berefek lokal).
KI: gangguan hepar, ginjal (keatinin>2mg/dl) dan GI
Efek samping: peningkatan flatus, nyeri abdominal, dan diare.
BIGUANID
Mekanisme kerja terutama menurunkan pengeluaran glukosa hati.
Mampu meningkatkan sensitifitas terhadap insulin dengan meningkatkan aktifitas reseptor insulin tirosin kinase, meingkatkan sistesis glikogen dan meningkatkan transport GLUT $4 transporter ke dalam plasma membran. Contoh: Metformin. Mampu menurunkan GDP sampai 50–70 mg/dl dan the HbA1c sampai 1.4–1.8%.
Tidak begitu berbahaya dalam menyebabkan hipoglikemi. Efek samping yang sering terjadi: ketidak nyamanan GI dan mual. Hampir 0.03 kasus/1,000 pasien-tahun, mengalami asidosis laktat terutama pada pasien yang mengalami renal insufisiensi dan gangguan hati
Metformin tidak direkomendasikan untuk pasien dengan kreatinin >1.5 mg/dl.
Baik digunakan bagi pasien gemuk.
TERAPI KOMBINASI
INSULIN
Cara kerja Insulin: Fungsi utama mengkounter hormon peningkat glukosa dan mempertahankan gula darah normal, menstimulasi lipogenesis, menurunkan lipolisis dan meningkatkan transport asam amino ke dalam sel, menstimulasi pertumbuhan, sintesis DNA dan replikasi sel.
Indikasi terapi insulin:
DM tipe 1/IDDM
DM tipe 2/NIDDM yang tidak berespon dengan pengobatan OHO
DM tipe 2 dengan stress
Penurunan BB yang cepat
Ketoasidosis diabetic
INSULIN
Penyuntikan: subkutan dan vena (dalam keadaan akut)
Lokasi subkutan,
KRITERIA PENGENDALIAN DMPENANGANAN DM DENGAN KOMPLIKASI DIABETES DAN HIPERTENSI
Indikasi pengobatan: TD sistolik lebih atau sama dengan 130mmHg dan TD diastolik lebih sama dengan 90mmHg
Pengelolaan
Non farmakologis: modifikasi gaya hidup. Menurunkan BB, OR, menghendtikan rokok dan mengurangi konsumsi garam
Farmakologis:
Hal yang perlu diperhatikan dalam memilih OAH (Obat Anti Hipertensi)):
Pengaruh OAH pada profil lipid
Pengaruh OAH pada metabolisme glukosa
Pengaruh OAH terhadap resisensi insulin
Pengaruh OAH terhadap hipoglikemi
PENANGANAN DM DENGAN KOMPLIKASI
Obat Anti Hipertensi yang dianjurkan:
Penghambat ACE (memperbaiki mikroalbuminuria)
Penyekat reseptor angiotensin II
Penyekat reseptor beta, selektif, dosis rendah
Diuretik dosis rendah (dalam jangka panjang memperburuk toleransi glukosa)
Penghambat alfa
Antagonis kalsium golongan non dihidropiridin
PENANGANAN DM DENGAN KOMPLIKASI
Nefropati Diabetik
Diagnosis: jika terdapat kadar albumin urin lebih atau sama dengan 30mg pada 2-3 kali pemeriksaan dalam jangka waktu 3-6 bulan tanpa penyebab albuminuria lain (aktivitas fisik berat, ISK, gagal jantung, hipertensi berat, demam tinggi)
Penatalaksanaan:
Kendalikan gd
Kendaikan TD
Diet protein 0.8gr/hr
Libatkan ahli nefrologi jika serum kreatinin telah mencapai lebih atau sama dengan 2.0mg/dl
PENANGANAN DM DENGAN KOMPLIKASI DM DENGAN GANGGUAN FUNGSI EREKSI
DE (Disfungsi Ereksi) akibat dari neuropati otonom, angiopati dan problem psikis
 tanyakan pada saat pengkajianàDE sumber kecemasan tapi jarang disampaikan pasien
Diagnosis DE menggunakan International Index of Erectil Function. Pengobatan lini pertama: terapi psikoseksual, obat oral (sildenafil)
 Obat Obat DM
1.      Kalsium Hyperglycemia
fungsi : menormalkan kerja pankreas untuk menghasilkan insulin
cara minum :
 - diminum setelah makan, dengan air hangat (60-70 derajat)
- khusus untuk usia > 12 th
- yang belum terbiasa perlu bertahap, termasuk penderita ginjal :
* 7-10 hari pertama : pagi 1/2 sachet, sore 1/2 sachet
* selanjutnya 2x1 sachet/hari
2.        Chitosan
fungsi : - menurunkan kadar gula darah dan menyembuhkan luka (untuk luka dapat ditabur)
- menurunkan kadar kolesterol karena sifatnya yang mengikat
- meningkatkan fungsi hati
- memperkuat kekebalan tubuh
- memperkuat daya serang sel tubuh terhadap sel kanker
cara minum : - 2x2 kapsul/hari, dengan air hangat
- sebaiknya diminum 1 jam sebelum atau setelah makan maupun produk lain karena sifatnya mengikat  tidak untuk dikonsumsi anak-anak dan ibu hamil
3.      Diacont
fungsi :
 - menurunkan kadar gula darah
- detoxifikasi racun dalam darah dan meningkatkan sistim imun
- memperbaiki fungsi kerja limpa (pankreas) agar menghasilkan insulin
-mengontrol nafsu makan yang berlebihan
- mencegah terjadinya infeksi pada kulit
cara minum : 2x2 kapsul/hari setelah makan

        H. PENATAKSANAAN KEPERAWATAN
Tujuan utama penatalaksanaan klien dengan diabetes mellitus adalah untuk mengatur glukosa darah dan mencegah timbulnya komplikasi acut dan kronik. Jika klien berhasil mengatasi diabetes yang dideritanya, ia akan terhindar dari hyperglikemia atau hypoglikemia. Penatalaksanaan diabetes tergantung pada ketepatan interaksi dari tiga faktor aktifitas fisik, diet dan intervensi farmakologi dengan preparat hyperglikemik oral dan insulin.
Pada penderita dengan diabetes mellitus harus rantang gula dan makanan yang manis untuk selamanya. Tiga hal penting yang harus diperhatikan pada penderita diabetes mellitus adalah tiga J (jumlah, jadwal dan jenis makanan) yaitu :
J I : jumlah kalori sesuai dengan resep dokter harus dihabiskan.
J 2 : jadwal makanan harus diikuti sesuai dengan jam makan terdaftar.
J 3 : jenis makanan harus diperhatikan (pantangan gula dan makanan manis).
Diet pada penderitae diabetes mellitus dapat dibagi atas beberapa bagian antara lain :
a.Diet A : terdiri dari makanan yang mengandung karbohidrat 50 %, lemak 30 %, protein 20 %.
b.Diet B : terdiri dari karbohidrat 68 %, lemak 20 %, protein 12 %.
c.Diet B1 : terdiri dari karbohidrat 60 %, lemak 20 %, protein 20 %.
d.Diet B1 dan B­2 diberikan untuk nefropati diabetik dengan gangguan faal ginjal.
Indikasi diet A :
Diberikan pada semua penderita diabetes mellitus pada umumnya.
Indikasi diet B :
Diberikan pada penderita diabetes terutama yang :
a.Kurang tahan lapan dengan dietnya.
b.Mempunyai hyperkolestonemia.
c.Mempunyai penyulit mikroangiopati misalnya pernah mengalami cerobrovaskuler acident (cva) penyakit jantung koroner.
d.Mempunyai penyulit mikroangiopati misalnya terdapat retinopati diabetik tetapi belum ada nefropati yang nyata.
e.Telah menderita diabetes dari 15 tahun
Indikasi diet B1
Diberikan pada penderita diabetes yang memerlukan diet protein tinggi, yaitu penderita diabetes terutama yang :
a.Mampu atau kebiasaan makan tinggi protein tetapi normalip idemia.
b.Kurus (underweight) dengan relatif body weight kurang dari 90 %.
c.Masih muda perlu pertumbuhan.
d.Mengalami patah tulang.
e.Hamil dan menyusui.
f.Menderita hepatitis kronis atau sirosis hepatitis.
g.Menderita tuberkulosis paru.
h.Menderita penyakit graves (morbus basedou).
i.Menderita selulitis.
j.Dalam keadaan pasca bedah.
Indikasi tersebut di atas selama tidak ada kontra indikasi penggunaan protein kadar tinggi.
Indikasi B2 dan B3
Diet B2
Diberikan pada penderita nefropati dengan gagal ginjal kronik yang klirens kreatininnya masih lebar dari 25 ml/mt.
Sifat-sifat diet B2
a.Tinggi kalori (lebih dari 2000 kalori/hari tetapi mengandung protein kurang.
b.Komposisi sama dengan diet B, (68 % hidrat arang, 12 % protein dan 20 % lemak) hanya saja diet B2 kaya asam amino esensial.
c.Dalam praktek hanya terdapat diet B2 dengan diet 2100 – 2300 kalori / hari.
Karena bila tidak maka jumlah perhari akan berubah.
Diet B3
Diberikan pada penderita nefropati diabetik dengan gagal ginjal kronik yang klibers kreatininnya kurang dari 25 MI/mt
Sifat diet B3
a.Tinggi kalori (lebih dari 2000 kalori/hari).
b.Rendah protein tinggi asam amino esensial, jumlah protein 40 gram/hari.
c.Karena alasan No 2 maka hanya dapat disusun diet B3 2100 kalori dan 2300 / hari. (bila tidak akan merubah jumlah protein).
d.Tinggi karbohidrat dan rendah lemak.
e.Dipilih lemak yang tidak jenuh.
Semua penderita diabetes mellitus dianjurkan untuk latihan ringan yang dilaksanakan secara teratur tiap hari pada saat setengah jam sesudah makan. Juga dianjurkan untuk melakukan latihan ringan setiap hari, pagi dan sore hari dengan maksud untuk menurunkan BB.
Penyuluhan kesehatan.
Untuk meningkatkan pemahaman maka dilakukan penyuluhan melalui perorangan antara dokter dengan penderita yang datang. Selain itu juga dilakukan melalui media-media cetak dan elektronik.

DASAR DATA PENGKAJIAN PASIEN
Data bergantung pada berat dan lamanyaketidakseimbangan metabolik dan pengaruh pada fungsi organ.
AKTIVITAS ATAU ISTIRAHAT
Gejala:                       
Lemah, letih, sulit bergerak atau berjalan.
Kram otot, tonus otot menurun. Gangguan tidur atau istirahat.
Tanda:                                   
Takikardia dan takipnea pada keadaan istirahat atau dengan aktivitas.
Letargi atau disorientasi, koma.
Penurunan kekuatan otot.
SIRKULASI
Gejala:                                   
Adanya riwayat hipertensi;IM akut.
Klaudikasi, kebas, dan kesemutan pada ekstremitas.
Ulkus pada kaki, penyembuhan yang lama.
Tanda:                                   
Takikardia.
Perubahan tekanan darah postural; hipertensi.
Nadi menurun atau tak ada.
Distrimia.
Krekels; DVJ (GJK).
Kulit panas, kering dan kemerahan; bola mata cekung.
INTERGRITAS EGO
Gejala:                                   
Stres; tergantung pada orang lain.
Masalah finansial yang berhubungan dengan kondisi.
Tanda:                                   
Ansietas, peka rangsang.
ELIMINASI
Gajala:                                   
Perubahan pola berkemih (poliuria), nokturia.
Diabetes Melitus / Diabetik Ketoasidosis (DKA)
Gejala:                                   
Rasa nyeri / tebakar, kesulitan berkemih (infeksi), ISK baru atau berulang.
Nyeri tekan abdomen.
Diare.
Tanda:                                   
Urine encer, pucat, kuning; poluri (dapat berkembang menjadioliguria
/ Anuria jika tejadi hipovolemia berat).
Urine berkabut, bau busuk (infeksi).
Abdomen keras, adanya asites.
Bising usus lemah dan menurun; hiperaktif (diare).
MAKANAN / CAIRAN
Gejala:                                   
Hilang napsu makan.
Mual/ muntah.
Tidak mengikuti diet; peningkatan masukan glukosa/ karbohidrat.
Penurunan berat badan lebih dari beberapa periode hari/ minggu.
Haus.
Penggunaan diuretik (tiazid).
Tanda:                                   
Kulit kering/ bersisik, turgor jelek.
Kekakuan/ distensi abdomen, muntah.
Pembesaran tiroid (peninggkatam kebutuhan metabolik dengan
Peningkatan gula darah).
Bau halitosis/ manis, bau buah (napas aseton).
NEUROSENSORI
Gejala:                                   
Pusing/ pening.
Sakit kepala.
Kesemutan, kebas kelemahan pada otot, parestesia.
Gangguan penglihatan.
Tanda:                                   
Disorientasi; mengantuk, letargi, stupor/koma (tahap lanjut).
Gangguan memori (baru, masa lalu); kacau mental
NYERI/ KENYAMANAN
Gejala:                                   
Abdomen yang tegang/ nyeri (sedang/ berat).
Tanda:                       
Wajah meringis dengan palpitasi; tampak sangat berhati-hati.
PERNAPASAN   
Gejala:                       
Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan/ tanpa sputum purulem (tergantung adanya infeksi).
Tanda:                       
Lapar udara.
Batuk dengan/ tanpa sprutum purulem (infeksi).
Frekuensi pernapasan.
KEAMANAN
Gejala:                       
Kulit kering, gatal; ulkus kulit.
Tanda:                       
Deman diaforesis.
SEKSUALITAS
Gejala:                       
Rabas vagina (cenderung infeksi).
Masalah impoten pada pria; kesulitan orgasme pada wanita.
PENYULUHAN/ PEMBELAJARAN
Gejala:                       
Faktor resiko keluarga;DM, penyakit jantung, stroke, hipertensi. Penyembuhan yang lambat.
Penggunaan obat seperti steroid, diuretik (tiazid); dilatin dan fenobarbital (dapat meningkatkan kadar glukosa darah).
Mungkin/ tidak mamerlukan obat diabetik sesuai pesanan.
Pertinbangan             DRG menunjukan rerata lama dirawat:5,9 hari
Rencana pemulangan:
 Mungkin memerlukan bantuan dalam pengaturan diet, pengobatan,         perawatan diri, pemantauan terhadap glukosa darah.
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
GLUKOSA DARAH: Meningkat 200-100 mg/dL, atau lebih.
Aseton plasma (keton): positif secara mencolok.
Asam lemak bebas: kadar lipid dan kolesterol meninggakt.
Osmolalitas serum: meninggkat tetapi biasanya kurang dari 330 mOsm/1.
Elektrolit:
                 Natrium: mungkin normal, meningkat atau menurun.
Kalium: Normal atau peningkatan senu (perpindahan seluler), selanjutnya akan menurun.
Fosfor: Lebih sering menurun.
Hemoglobin glikosilat: Kadarnya meninggkat 2-4 kalilipat dari normal yang mencerminkan kontrol DM yang kurang selama 4 bulan terakhir (lama hidup SDM) dan karenanya sangat bermanfaay dalam menbedakan DKA dengan kontrol tidak adekuat versus DKA yang berhubungan dengan insiden (mis., ISK baru).
Gas darah arteri: Biasanya menunjukan pH rendah dan penurunan pada HCO3 (asidosis metabolik) dengan konpensasi alkalosis respiratorik.
Trombosit darah: Ht mungkin meningkat (dehidrasi); leukositosis, hemokonsentrasi, merupakan respon terhadap sters atau infeksi.
Ureum/ kreatinin: Mungkin meningakat atau normal (dehidrasi/ penurunan fungsi ginjal).
Amilase darah: Mungkin meningkat yang mengindikasikan adanya pankreastitis  akut sebagai penyebab DKA.
Diabetes Mellitus/ Diabetik Ketoasidosis (DKA)
INSULIN DARAH: Mungkin menurun atau bahkan sampai tidak ada (pada tipe I) atau nolmal sampai tinggi (tipe II) yang mengindikasikan insufiensi insulin/ gangguan dalam penggunaannya (endogen/eksogen). Resisten insulin dapat berkembang sekunder terhadap pembetukan antibodi.
Pemeriksaan fungsi tiroid: Peningkatan aktivitas tiroid dapat meninggkatkan glukosa darah dan kebutuhan akan insulin.
Urine: Gula dan aseton positif; berat jenis dan osmolalitas mungkin meningkat.
Kultur dan sensitivitas; kemungkinan adanya infeksi pada saluran kemih, infeksi pernapasan pada luka.
DIAGNOSA KEPERAWATAN:   KEKURANGAN VOLUME CAIRAN
Dapat berhubungan dengan:             
Diuresis osmotik (dari hiperglikimia).
Kehilangan gastrik yang berlebihan;diare, muntah.
Masukan dibatasi; Mual, kacau mental.
Kemungkinan di buktikan oleh:         
Peningkatan haluaran urine, urine encer.
Kelemahan; haus; penurunan berat badan tiba-tiba.
Kulit/ membran mukosa kering, tugor kulit buruk.
Hipotensi, takikardia, pelambatan pengisian kapiler.
HASIL YANG DI HARAPKAN/               
Mendemostrasikan hidrasi adekuat dibuktikan oleh tanda
KRITERIA EVALUASIPASIEN AKAN            
vital stabil, nadi periper dapat diraba, turgor kulit dari pengisian kapiler baik, haluaran urine tepat secara individu,             dan kadar elektrolit dalam batas normal.
No
TINDAKAN/INTERVENSI
RASIONAL
1
Mandiri
Dapatkan riwayat pasien/orang terdekat sehubungan dengan lamanya/intensitas dari gejala seperti muntah, pengeluaram urine yang sangat berlebihan.

Membantu dalam memperkirakan kekurangan volume total. Tanda dan gejala mungkin sudah ada pada beberapa waktu sebelumnya (beberapa jam sampai beberapa hari). Adanya proses infeksi mengakibatkan demam dan keadaan hipermetabolik yang akan meningkatkan kehilangan air tidak kasat mata.
2
Pantau tanda-tanda vital, cacat adanya perubahan TD ortostatik.
Hipovolemia dapat dimanisfestasikan oleh hipotensi dan takikardia. Perkiraan berat ringannya hipovolemia dapat di buat ketika tekanan darah sistolik pasien turun lebih dari10 mm Hg dari posisi berbaring ke posisi duduk/berdiri. Catatan: Neuropati jantung dapat memutuskan repleks-repleks yang secara normal meningkatkan denyut jantung.
3
Pola napas seperti adanya pernapasan kussmaul atau pernapasa yang berbau keton.
Paru-paru mengeluarkan asam karbonat melalui pernapasan yang menghasilkan kompensasi alkalosis resviratoris terhadap keadaan ketoasidosis. Pernapasan yang berbau aseton berhubungan pemecahan asam aseto-asetat dan harus berkurang bila ketosis yang harus terkoreksi.
4
Suhu, warna kulit, atau kelembabannya.
Meskipun deman, menggigil dan diaporesis merupakan hal umum terjadi pada proses infeksi, demam dengan kulit yang kemerahan, kering mungkin sebagai cermnan dehidrasi.
5
Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, togor kulit, dan membran mukosa.
Merupakan indikator dari tingkat dehidrasi, atau volume sirkulasi yang adekuat.
6
Pantau masukan dan pengeluaran, catat berat jenis urine
Memberikan perkiraan kebutuhan akan cairan pengganti, fungsi ginjal, dan keefektipan dari terapi yang diberikan.
7
Ukur berat badan setiap hari.
Memberikan hasil pengkajian yang terbaik dari status cairan yang sedang berlangsung dan selanjutnya dalam memberikan cairan pengganti.
8
Kolaborasi
Berikan terapi cairan sesuai indikasi;
Normal salin atau setengah normal salin dengan atau tanpa dektrosa.

Albumin, plasma, atau dekstran.


Tipe dan jumlah cairan tergantung pada derajat kekurangan cairan dan respons pasien secara individual.
Palsma ekspander (pengganti) kadang di bituhkan jika kekurangan tersebut mengancam kehidupan atau tekanan darah sudah tidak dapat kembali normal dengan usaha-usaha rehidrasi yang telah di
lakukan.

9
Pantau pemeriksaan laboratorium seperti:
Hematokrit (Ht)


BUN/kreatinin.


Osmolalitas darah


Mengkaji tingkat hidrasi dan seringkali meningkat akibat hemokonsentrasi yang terjadi setelah diuresis osmotik.
Peningkatan nilai dapat mencerminkan kerusakan sel karena dehidrasi atau tanda awitan kegagalan ginjal.
Meningkat sehubungan dengan adanya hiperglikemia dan dehidrasi.
 DIAGNOSA KEPERAWATAN:            NUTRISI, PERUBAHAN: KURANG DARI KEBUTUHAN TUBUH
Dapat di hubungkan dengan:         
Ketidakcukupan insulin (penurunan ambilan dan penggunaan glukosa oleh jaringan mengakibatkan peningkatan metabolisme protein/lemak).
Penurunan masukan oral; anoreksia, mual, lanbung penuh, nyeri abdomen, perubahan kesadaran.
Status hipermetabolisme; Pelepsan hormon stres (mis., epinetrin, kortisol, dan hormon pertumbuhan), proses infeksius.
Kemungkinan dibuktikan oleh:       
Melaporkan masukan makanan takadekuat, kurang minat pada makanan.
Penurunan berat badan; kelemahan, kelelahan, tonus otot buruk.
Diare.
HASIL YANG DIHARAPKAN/             
Mencerna jumlah kalori/nutrien yang tepat.
KRITERIA EVALUASI PASIAEN AKAN:
Menunjukan tingkat energi biasanya.
Mendemonstrasikan berat badan stabil atau penambahan ke arah rentang biasanya/yang di inginkan dengan nilai laboratorium normal.
No
TINDAKAN/INTERVEVSI
RASIONAL
1
Mandiri
Timbang berat badan setiap hari atau sesuai dengan indikasi.

Mengkaji pemasukan makanan yang adekuat (termasuk absorpsi dan utilisasinya).
2
Tentukan progam diet dengan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat di habiskan pasien.
Mengindentifikasi kekurangan dan penyimpanan dari kebutuhan terapeitik.
3
Identivikasi makanan yang disukai/dikehendaki ternasuk kebutuhan etnik/kultural.
Jika makanan yang disukai pasien dapat dimasukan dalam perencanaan makanan, kerjasama ini dapat diupayakan setelah pulang.
4
Kolaborasi
Lakukan pemeriksaan gula darah dengan menggunakan “finger stick”.

Analisa di tempat tidur terhadap gula darah lebih akurat (menunjukan keadaan saat dilakukan pemeriksaan) dari pada memantau gula dalam urine (reduksi urine) yang tidak culup akurat untuk mendeteksi fluktuasi kadar gula darah dan dapat di pengaruhi oleh ambang gula pasien secara individual atau adanya retensi urine/gagal ginjal. Catatan: Beberapa penelitian telah menemukan bahwa glukosa urine 20% berhubungan dengan gula darah antara 140-360 mg/dl.
5
Berikan lalutan glukosa, misalnya dekstrosa dan setengah salin normal.
Dengan metabolisme karbohidrat mendekati normal, perawatan harus di berikan untuk menghindari terjadinya hipoglikemia.
6
Lakukan konsultasi dengan ahli diet.
Sangat bermanfaat dalam perhitungan an penyesuaian diet untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien; menjawab pertanyaan dan dapat pula membantu pasien atau orang terekat dalam mengembangkan perencanaan makan.
                                                 
DIAGNOSAKEPERWATAN: INFEKSI, RISIKO TINGGI TERHADAP [SEPSIS]
Faktor risiko meliputi:                      
Kadar glukosa tinggi, penurunan funfsi leukosit, perubahan pada sirkulasi.
Infeksi pernapasan yang ada sebelumnya, atau ISK.
Kemungkinan dibuktikan oleh:       
[tidak dapat di terapkan: adanya tanda-tanda dan gejala-gejala membuat diagnosa aktual].
HASIL YANG DIHARAPKAN/             
Mengindentifikasi intervensi untuk mencegah/
KRITERIA EVALUASI PASIEN AKAN: 
menurunkan risiko infeksi.
Mendemonstrasikan teknik, perubahan gaya hidup untuk mencegah terjadinya infeksi.
No
TINDAKAN/ITERVENSI
RASIONAL
1
Mandiri
Observasi tanda-tanda infeksi dan peradangan, seperti demam, kemerahan, adanya pus pada luka, sputum puluren, urine warna keruh atau berkabut.

Pasien mungkin masu dengan infeksi yang biasanya telah  mencetuskan keadaan ketoasidosis atau dapat mengalami infeksi nosokomial.
2
Posisikan pasien pada posisi semi-Fowler.
Memberikan kemudahan bagi paru untuk berkembang; menurunkan risiko terjadi aspirasi.
3
Berikan tisu dan tempat sputum pada tempat yang mudah dijangkau untuk penampungan sputum/sekret yang lainya.
Mengurangi penyebaran infeksi.
4
Bantu pasien untuk melakukan higiene oral.
Menurunkan risiko terjadinya prnyakit mulut/gusi.
5
Kolaborasi
Lakukan pemeriksaan kultur dan sensivitas sesuai dengan indikasi.

Berikan obat antibiotik yang sesuai.

Untuk mengidentifikasi organisme  sehingga dapat memilih/memberikan terapi antibiotik yang terbaik.
Penanganan awal dapat membantu mencegah timbulnya sepsis.

DIAGNOSAKEPERAWATAN:          PERUBAHAN SENSORI-PERSEPTUAL: (URAIKAN), RISIKO TINGGI TERHADAP
Faktor risiko meliputi:                      
Perubaha kimia endogen; ketidakseimbangan glukosa/insulin dan elektrolit.
Kemungkinan dibuktikan oleh:
[tidak dapat diterapkan; adanya tanda-tanda dan gejala-gejala membuat diagnosa aktual].
HASIL YANG DIHARAPKAN/             
Mempertahankan tingkat mental biasanya.
KRITERIA EVALUASI PASIENAKAN:
Mengnali dan mengkompensasi adanya kerusakan sensori.
No
TINDAKAN/INTRVENS
RASIONAL
1
Mandiri
Pantau tanda-tanda vital dan status mental.

Sebagai dasar untuk membandingkan temuan abnormal, seperti suhu yang meningkat dapat mempengaruhi fungsi mental.
2
Jadwalkan intervensi keperawatan agar tidak mengganggu waktu istirahat pasien.
Meninggkatkan tidur, menurunkan rasa letih, dan dapat memperbaiki daya pikir.
3
Pelihara aktivitas rutin pasien sekonsisten mungkin, dorong untuk melakukan kegiatan sehari-hari sesuai kemampuannya.
Membantu memelihara pasien tetap berhubungan dengan realitas dan mempertahankan orientasi pada lingkungannya.
4
Bantu pasien dalam ambulasi atau perubhan posisi.
Meningkatkan keamnan pasien terutama ketika rasa keseimbangan dipengaruhi.
5
Kolaborasi
Berikan pengobatan sesuai dengan obat yanag ditentukan untuk mengatasi DKA sesuai indikasi.
Bantu dengan memblok saraf setempat, mempertahankan unit TENS.

Gangguan dalam proses pikir/potensial terhadap aktivitas kejang biasanya hilang bila keadaan hiperosmolaritas teratasi.
Dapat memberikan rasa nyaman yanag berhubungan dengan neuropati.

DIAGNOSA KEPERAWATAN:  KELELAHAN
Dapat dihubungkan:                        
Penurunan produksi energi metabolik.
Perubahan kimia darah; insufiensi insulin.
Peningkatan kebutuhan energi; status hipermetabolik/infeksi.
Kemungkinan dibuktikan oleh:       
Kurang energi yang berlebihan. Ketidakmampuan untuk mempertahankan rutinitas biasanya, penurunan kinerja, kecenderungan untuk kecelakaan.
HASIL YANG DIHARAPKAN               
Mengungkapkan peningkatan tingkat energi.
KRITERIA EVALUASI PASIEN AKAN:
Menunjukan perbaikan kemampuan  untuk berpartisipasi dalam aktifitas yang diinginkan.
No
TIDAKAN/INTERVENSI
RASIONAL
1
Mandiri
Diskusikan dengan pasien kebutuhan akan aktivitas. Buat jadwal perencanaan dengan pasien dan identifikasi aktivitas yang menimbulkan kelelahan.

Pendidikan dapat memberikan motivasi untuk meningkatkan tingkat aktivitas meskipun pasien mungkin sangat lemah.
2
Berikan aktivitas alternatif dengan periode istirahat yang cukup tanpa di ganggu.
Mencegah kelelahan yang berlebihan.
3
Pantau nadi, frekuensi pernapasan dan tekanan darah sebelum/sesudah melakukan aktivitas.
Mengindikasikan tingkat aktivitas yang dapat ditoleransi secara fisiologis.
4
Diskusikan cara menghemat kalori selama mandi, berpindah tempat dan sebagainya.
Pasien akan dapat melakukan lebih banyak kegiatan dengan penurunan kebutuhan akan energi pada setiap kegiatan.
5
Tingkatan partisipasi pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan yang dapat di toleransi.
Meningkatkan kepercayaan harga diri yang positif sesuai tingkat aktivitas yang dapat di toleransi pasien.

DIAGNOSA KEPERAWATAN:  KETIDAKBERDAYAAN
Dapat dihubungkan dengan:          
Penyakit jangka panjang yang tidak dapat diobati.
Ketergantungan pada orang laian.
Kemungkinan dibuktikan oleh:       
Penolakan untuk mengekspresikan perasaan sebenarnya; ekspresi tentang mengalami situasi tidak terkontrol.
Apatis, menarik diri, marah
Tidak memantau kemajuan, tidak berpartisipasi dalam perawatan/pembuatan keputusan.
Penekanan terhadap penyimpangan/komplikasi fisik meskipun pasien bekerja sama dengan aturan.
HASIL YANG DIHARAPKAN               
Mengakui perasaan putus asa.
KRITERIA EVALUASI PASIEN AKAN: 
Mengidentivikasi cara-cara sehat untuk menghadapi perasaan.
Membantu dalam merencanakan perawatannya sendiri dan secara mandiri mengambil tanggung jawab untuk aktivitas perawatan diri.
No
TINDAKAN/INTERVENSI
RASIONAL
1
Mandiri
Anjurkan pasien/keluarga untuk mengekspresikan perasaanya tentang perawatan di rumah sakit dan penyakitnya secara keseluruhan.

Mengidentifikasi area perhatianya dan memudahkan cara pemecahan masalah.
2
Tentukan tujuan atau harapan dari pasien/keluarga.
Harapan yang tidak realisyis atau adanya tekanan dari orang laian atau diri sendiri dapat mengakibatkan perasaan frustasi/kehilangan kontrol diri dan mungkin mengganggu kemampuan koping.
3
Anjurkan pasien untuk membuat keputusan sehubungan dengan perawatanya, seperti ambulasi, waktu berativitas, dan seterusnya.
Mengkomunikasikan pada pasien  bahwa beberapa pengendalian dpat dilatih pada saat perawatam dilakukan.

DIAGNOSA KEPERAWATAN: KURANG PENGETAHUAN [KEBUTUHAN BELAJAR], MENGENAL PENYAKIT, PROGNOSIS, DAN KEBUTUHAN PENGOBATAN
Dapat dihubungkan dengan:          
 Kurang pemajanan/mengingat kesalahan interprestasi informasi.
Tidak mengenal informasi.
Kemungkinan dibuktikan oleh:       
Pertanyaan meminta informasi, mengungkapkan masalah.
Ketidakakuratan mengikuti instruksi, terjadinya komplikasi yang dapt di cegah.
HASIL YANG DIHARAPKAN               
Mengungkapkan pemahaman tentang penyakit.
KRITERIA EVALUASI PASIEN AKAN:
Mengidentifikasi hubungan/gejala dengan proses penyakit dan menghubungkan gejala dengan faktor penyebab.
Dengan benar melakukan prosedur yang perlu dan menjelaskan rsional tindakan.
Melakukan perubahan gaya hidup dan berpartisipasi dalam program pengobatan.
No
TINDAKAN/INTERVENSI
RASONAL
1
Mandiri
Ciptakan lingkungan saling percaya dengan mendengarkan penuh perhatian, dan selalu ada untuk pasien.

Menanggapi dan memperhatikan perlu diciptakan sebelum pasien bersedia mengambil bagian dalam proses belajar.
2
Bekerja dengan pasien dalam menata tujuan belajar yang diharapkan.
Partisipasi dalam perencanaan meningkatkan antusias dan kerjasama pasien dengan prinsip-prinsip yang dipelajari.
3
Diskusikan topik-topik utama, seperti:
Apakah kadar glukosa normal itu dan bagaimana  hal tersebut dibandingkan dengan kadar gula darah pasien, tipe DM yang dialami pasien, hubungan antara kekurangan insulin dengan kadar gula darah yang tinggi.
Memberikan pengetahun dasar dimana psien dapat membuat pertimbangan dalan memilih gaya hidup.
4
Tinjau ulang program pengobatan meliputi awitan, puncak dan lamanya dosis insulin yang diresepkan, bila disesuaikan dengan pasien atau keluarga.
Pemahaman tentang semua aspek yang digunakan obat meningkatkan penggunaan yang tepat. Algoritme dosis dibuat, yang masuk dalam perhitungan dosis obat yang dibuat selama evaluasi rawat inap; jumlah dan jadwal aktivitas fisik biasanya.
5
Tekanan pentingnya penggunaan dari gelang bertanda khusus.
Dapat mempercepat masuk ke dalam pusat-pusat sistem kesehatan dan perawatan yang sesuai dengan skibat komplikasi yang lebih kecil pada keadaan darurat.

 
Referensi
Doenges, Marilynn E, (1999), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3, EGC, Jakarta

Dipostingkan Oleh:
Ita Nurmalitasari
05200ID09017
IIA
AKADEMI KEPERAWATAN PEMDA GARUT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar